Categories
Business

Purbaya Turun Tangan, Anggaran Rp120 Miliar Disiapkan Agar PLTSa Benowo Tak Gulung Tikar

Pemerintah melalui Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan anggaran sebesar Rp120 miliar guna menyelamatkan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, Surabaya, yang terancam gulung tikar. Langkah ini diambil menyusul berbagai persoalan keuangan dan operasional yang membebani keberlanjutan proyek energi terbarukan tersebut.

PLTSa Benowo merupakan salah satu proyek strategis nasional yang mengolah sampah perkotaan menjadi sumber energi listrik. Fasilitas ini tidak hanya berperan dalam mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mendukung target transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, PLTSa Benowo menghadapi tekanan serius akibat tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan.

Purbaya menyampaikan bahwa anggaran Rp120 miliar tersebut akan difokuskan untuk menutup kekurangan biaya operasional serta menjaga agar aktivitas pengolahan sampah dan produksi listrik tetap berjalan normal. Tanpa intervensi pemerintah, risiko penghentian operasional dinilai cukup besar dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serta sosial yang luas bagi Kota Surabaya.

Selain persoalan biaya, PLTSa Benowo juga menghadapi tantangan teknis dan skema pembiayaan jangka panjang. Harga listrik yang dihasilkan dari PLTSa dinilai belum sepenuhnya mencerminkan biaya produksi yang tinggi, terutama akibat penggunaan teknologi ramah lingkungan dan proses pengolahan sampah yang kompleks. Kondisi ini membuat pengelola kesulitan menjaga arus kas tetap sehat.

Purbaya menegaskan bahwa penyelamatan PLTSa Benowo bukan sekadar upaya menjaga satu proyek, melainkan bagian dari komitmen pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan berbasis sampah. Ia menilai, jika PLTSa Benowo sampai berhenti beroperasi, maka kepercayaan investor terhadap proyek serupa di daerah lain bisa ikut terganggu.

Pemerintah juga tengah mengevaluasi skema tarif listrik dan dukungan kebijakan agar proyek PLTSa dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa ketergantungan penuh pada subsidi. Evaluasi ini mencakup kemungkinan penyesuaian harga jual listrik, insentif fiskal, hingga dukungan pembiayaan jangka panjang.

Dengan disiapkannya anggaran Rp120 miliar tersebut, pemerintah berharap PLTSa Benowo dapat terus beroperasi dan menjadi contoh pengelolaan sampah modern yang terintegrasi dengan penyediaan energi bersih. Ke depan, proyek ini diharapkan tidak hanya membantu mengatasi persoalan sampah perkotaan, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional.